Minggu, 08 Mei 2011

FISIOLOGI TIDUR


2.1. Pengertian Tidur
Istirahat dan tidur merupakan kebutuhan dasar yang mutlak harus dipenuhi oleh semua orang. Dengan istirahat dan tidur yang cukup,tubuh baru dapat berfungsi secara optimal. Secara umum, istirahat berarti suatu keadaan tenang, relaks, tanpa tekanan emosional, dan bebas dari perasaan gelisah. Jadi, beristirahat bukan berarti tidak melakukan aktivitas sama sekali. Terkadang, berjalan-jalan di taman juga bisa dikatakan sebagai suatu bentuk istirahat. Istirahat juga bisa diartikan dengan bersantai, menyegarkan diri atau diam, melepaskan diri dari apapun yang membosankan, menyakitkan atau menjengkelkan. Status aktifitas tubuh dalam keadaan menurun, keadaan tenang, rileks, bebas dari cemas dan takut



Sedangkan tidur merupakan suatu keadaan berubahnya kesadaran, dimana dengan adanya berbagai derajat stimulus dapat menimbulkan suatu keadaan yang benar - benar terjaga (Taylor, 1997). Tidur merupakan aktivitas yg melibatkan susunan saraf pusat, saraf perifer, endokrin, KV, Respirasi, dan muskulosekeltal. Tidur dikarakteristikkan dengan aktifitas fisik yang minimal, tingkat kesadaran yang bervariasi,perubahan proses fsiologis tubuh,dan penurunan respons terhadap stimulus eksternal. Hampir sepertiga dari waktu kita, kita gunakan untuk tidur. Hal tersebut didasarkan pada keyakinan bahwa tidur dapat memulihkan atau mengistirahatkan fisik setelah seharian beraktivitas,mengurangi stress dan kecemasan,serta dapat meningkatkan kemampuan dan konsenterasi saat hendak melakukan aktivitas sehari-hari

2.2 Fisiologis Tidur
Aktivitas tidur diatur dan dikontrol oleh dua system pada batang otak,yaitu Reticular Activating System (RAS) dan Bulbar Synchronizing Region(BSR). RAS di bagian atas batang otak diyakini memiliki sel-sel khusus yang dapat mempertahankan kewaspadaan dan kesadaran, memberi stimulus visual, pendengaran, nyeri, dan sensori raba, serta emosi dan proses berfikir. Pada saat sadar, RAS melepaskan katekolamin,sedangkan pada saat tidur terjadi pelepasan serum serotonin dari BSR (Tarwoto,Wartonah,2003).


Tidur ditandai dengan:
  • Aktivitas fisik, minimal
·         Perubahan-perubahan fisiologis tubuh dan
·         Penurunan respon terhadap rangsangan eksternal
Meskipun tujuan dari tidur sebenarnya tidak jelas, namun diyakini bahwa tidur diperlukan untuk memelihara kesehatan dan menjaga keseimbangan mental emosional.
Apabila kekurangan tidur akan mengakibatkan kondisi yang dapat merusak orang yang mengalaminya.
Fungsi dan tujuan tidur masih belum diketahui secara jelas. Meskipun demikian, tidur diduga bermanfaat untuk menjaga keseimbangan mental, emosional, dan kesehatan. Sclain itu, stres pada paru, sistem kardiovaskuler, endokrin, dan lain-lainnya juga menurun aktivitasnya. Energi yang tersimpan selama dari tidur diarahkan untuk fungsi-fungsi seluler yang penting. Secara umum terdapat dua efek fisiologis tidur, pertama efek pada sistem saraf yang dipeerkirakan dapat memulihkan kepekaan normal dan keseimbangan di antara berbagai susunan saraf. Kedua, efek pada struktur tubuh dengan memulihkan kesogaran dan fungsi organ dalam tubuh, mengingat terjadinya penurunan aktivitas organ-organ tubuh tersebut selama tidur.

2.3. Gelombang Otak
Aktivitas otak berupa gelombang listrik, yang dapat direkam melalui kulit kepla, disebut gelombang EEG (Elektro-Ensefalo-Gram). Amplitudo dan frekuensi EEG bervariasi, tergantung, pada tempat perekaman dan aktivitas otak saat perekaman. Saat subyek santai, mata tertutup, gambaran EEG nya menunjukkan aktivitas sedang dengan gelombang sinkron 8-14 siklus/detik, disebut gelombang alfa. Gelombang alfa dapat direkam dengan baik pada area visual di daerah oksipital. Gelombang alfa yang sinkron dan teratur akan hilang, kalau subyek membuka matanya atau jika lampu disorotkam dipelupuk matanya yang tertutup. Gelombang yang terjadi adalah gelombang beta (> 14 siklus/detikz). Gelombang beta direkam dengan baik diregio frontal, merupakan tanda bahwa orang terjaga, waspada dan terjadi aktivitas mental. Meski gelombang EEG berasal dari kortek, modulasinya dipengaruhi oleh formasio retikularis di subkortek.



2.4. Formasio Retikularis
            Formasio retikularis terletak di substansi abu otak dari daerah medulla sampai midbrain dan talamus. Neuron formasio retikularis menunjukkan hubungan yang menyebar. Perangsangan formasio retikularis midbrain membangkitkan gelombang beta, individu seperti dalam keadaan bangun dan terjaga. Lesi pada formasio retikularis midbrain mengakibatkan orang dalam stadium koma, dengan gambaran EEG gelombang delta. Jadi formasio retikularis midbrain meragsang ARAS (Ascending Reticular Activating System), suatu proyeksi serabut difus yang menuju bagian area di forebrain. Nuklei retikular talamus juga masuk dalam ARAS, yang juga mengirimkan serabut difus kesemua area di kortek serebri.
            ARAS mempunyai proyeksi non spesifik dengan depolarisasi global di korteks, sebagai kebalikan dari proyeksi sensasi spesifik dari talamus yang memlunyai efek eksitasi korteks secara khusus untuk tempat tertentu. Eksistansi ARAS pada umum memfasilitasi respon kortikal spesifik ke sinyal sensori spesifik dari talamus. Dalam keadaan normal, sewaktu perjalanan ke kortek,  sinyal sensorik dari serabut sensori aferen menstimulasi ARAS melalui cabang-cabang kolateral akson. Jika sistem aferen  terangsang seluruhnya (suara keras, mandi air dingin), proyeksi ARAS memicu aktivasi kortikal umum dan terjaga.

2.5 Regulasi Tidur
Regulasi dan kontrol berdasarkan hubungan antara 2 mekanisme antagonis di otak:
SAR (Sistem Aktivasi Retikular)
Berlokasi batang otak teratas: mempertahankan kewaspadaan & terjaga.
SAR menerima stimulus sensori visual, auditori, nyeri, dan taktil. Saat terbangun mrp hasil dari neuron dlm SAR yg mengeluarkan katekolamin (noreepinefrin)
BSR (Bulbar Synchronizing Region)
Mengambil alih yang menyebabkan tidur. Disebabkan oleh pelepasan serum serotonin.

2.6 Faktor yang Memperngaruhi Siklus Tidur
Selama tidur , individu melewati tahap tidur NREM dan REM. Siklus tidur yang komplet normalnya berlangsung selama 1,5 jam, dan setiap orang biasanya melalui emapt hingga lima siklus selama 7-8 jam tidur. Siklus tersebut dimulai dari tahap NREM yang berlanjut ke tahap REM. Tahap NREM I-III berlangsung selama 30 menit, kemudian diteruskan ke tahap IV selama ± 20 menit. Setelah itu, individu kembali melalui tahap III dan II selama 20 menit. Tahap I REM muncul sesudahnya dan berlangsung selama 10 menit.

2.6.1 Faktor yang mempengaruhi kuantitas dan kualitas tidur
Banyak faktor yang mempengaruhi kualitas maupun kuantitas tidur,di antaranya adalah penyakit, lingkungan, kelelahan, gaya hidup, stress emosional,stimulan dan alcohol,diet, merokok,dan motivasi.
a). Penyakit.
Penyakit dapat menyebabkan nyeri atau distress fisik yang dapat menyebabkan gangguan tidur. Individu yang sakit membutuhkan waktu tidur yang lebih banyak daripada biasanya.di samping itu, siklus bangun-tidur selama sakit juga dapat mengalami gangguan.
b). Lingkungan.
Faktor lingkungan dapat membantu sekaligus menghambat proses tidur. Tidak adanya stimulus tertentu atau adanya stimulus yang asing dapat menghambat upaya tidur. Sebagai contoh, temperatur yang tidak nyaman atau ventilasi yang buruk dapat mempengaruhi tidur seseorang. Akan tetapi, seiring waktu individu bisa beradaptasi dan tidak lagi terpengaruh dengan kondisi trsebut.
c). Kelelahan.
Kondisi tubuh yang lelah dapat mempengaruhi pola tidur seseorang. Semakin lelah seseorang,semakin pendek siklus tidur REM yang dilaluinya. Setelah beristirahat biasanya siklus REM akan kembali memanjang.
d). Gaya hidup.
Individu yang sering berganti jam kerja harus mengatur aktivitasnya agar bisa tidur pada waktu yang tepat.
e). Stress emosional.
Ansietas dan depresi sering kali mengganggu tidur seseorang. kondisi ansietas dapat meningkatkan kadar norepinfrin darah melalui stimulasi system saraf simapatis. Kondisi ini menyebabkan berkurangnya siklus tidur NREM tahap IV dan tidur REM serta seringnya terjaga saat tidur.
f). Stimulant dan alkohol.
Kafein yang terkandung dalam beberapa minuman dapat merangsang SSP sehingga dapat mengganggu pola tidur. Sedangkan konsumsi alcohol yang berlebihan dapat mengganggu siklus tidur REM. Ketika pengaruh alcohol telah hilang, individu sering kali mengalami mimpi buruk.
g). Diet
Penurunan berat badan dikaitkan dengan penurunan waktu tidur dan seringnyaterjaga di malam hari. Sebaliknya, penambahan berat badan dikaitkan dengan peningkatan ttal tidur dan sedikitnya periode terjaga di malam hari.
h). Merokok
Nikotin yang terkandung dalam rokok memiliki efek stimulasi pada tubuh. Akibatnya, perokok sering kali kesulitan untuk tidur dan mudah terbangun di malam hari.

i). Medikasi.
Obat-obatan tertentu dapat mempengaruhi kualitas tidur seseorang. hipnotik dapat mengganggu tahap III dan IV tidur NREM,metabloker dapat menyebabkan insomnia dan mimpi buruk, sedangkan narkotik (mis; meperidin hidroklorida dan morfin) diketahui dapat menekan tidur REM dan menyebabkan seringnya terjaga di malam hari.
j). Motivasi.
Keinginan untuk tetap terjaga terkadang dapat menutupi perasaan lelah seseorang. sebaliknya, perasaan bosan atau tidak adanya motivasi untuk terjaga sering kali dapat mendatangkan kantuk.

2.6.2 Fungsi Tidur
Fungsi tidur adalah memperbaiki (restorative) kembali organ-organ tubuh (Fordiastiko,1997)
·         NREM: anabolik dan sintesis RNA
·         REM: pembentukan hubungan baru pd korteks & sistem neuroendokrin yg menuju otak
-          Pertumbuhan dan kesehatan anak-anak.
-          Meringankan stres dan kegelisahan.
-          Memulihkan kemampuan untuk mengatasi dan mengkonsentrasikan pada kebutuhan sehari-hari.
2.7. Irama Sirkadian
Setiap makhluk hidup memiliki bioritme (jam biologis) yang berbeda. Pada manusia,bioritme ini dikontrol oleh tubuh dan disesuaikan dengan factor lingkungan (mis; cahaya, kegelapan, gravitasi dan stimulus elektromagnetik). Bentuk bioritme yang paling umum adalah ritme sirkadian-yamg melengkapi siklus selama 24 jam. Dalam hal ini, fluktuasi denyut jantung,tekanan darah,temperature,sekresi hormone,metabolism dan penampilan serta perasaan individu bergantung pada ritme sirkadiannya. Tidur adalah salah satu irama biologis tubuh yang sangat kompleks. Sinkronisasi sirkadian terjadi jika individu memiliki pola tidur-bangun yang mengikuti jam biologisnya: individu akan bangun pada saat ritme fisiologis paling tinggi atau paling aktif dan akan tidur pada saat ritme tersebut paling rendah (Lilis,Taylor,Lemone,1989).


2.8.   Skema Tahap Tidur

TAHAP-TAHAP TIDUR
TAHAP PRA TIDUR
NREM I           NREM II          NREM III            NREM IV
                                                  
                                                        REM
          
                                                         NREM II           NERM III               


2.9. Tahapan Tidur
Berdasarkan penelitian yang dilakukan dengan bantuan alat elektroensefalogram (EEG), elektro-okulogram (EOG), dan elektrokiogram (EMG), diketahui ada dua tahapan tidur, yaitu non-rapid eye movement(NREM) dan rapid eye movement (REM).



2.9.1 Tahapan Tidur NON REM
Tidur NREM disebut juga sebagai tidur gelombang-pendek karena gelombang otak yang ditunjukkan oleh orang yang tidur lebih pendek daripada gelombang alfa dan beta yang ditunjukkan orang yang sadar. Tidur kemudian berlanjut, gelombang makin lambat dan memperbesar, diselingi letupan gelombang seperti cepat kumparan. Secara umum, tidur manusia dibagi atas dua tahap, yakni tidur ortodoks (tidur gelombang lambat) dan tidur paradoks [(tidur R(apid) E(ye) M(ovement)]. Pada tidur NON REM terjadi penurunan sejumlah fungsi fisiologi tubuh
Tahap 1:
·         tingkal paling dangkal dari tidur
·         Pengurangan aktifitas fisik
·         Mudah terbangun/terasa bermimpi

Tahap 2
·         Relaksasi
·         Mudah terbangun
·         Fungsi tubuh makin lambat
·         10-20 menit

Tahap 3
·         Awal tidur dalam
·         Sulit dibangunkan
·         Otot-otot relaksasi
·         Tanda vital menurun
·         15-30 menit
Tahap 4
·         Tidur dalam
·         Sulit dibangunkan
·         Tanda vital menurun
·         15-30 menit
·         Sekresi lambung
Setiap perubahan tingkat mempunyai gambaran EEG khusus, gerak tubuh dan aktivitas otonom (kecepatan pernafasan dan debar jantung, pengeluaran keringat, pengeluaran hormon pertumbuhan) tertentu. Pada stadium 4 tidur ortodoks bergelombang sinkron, besar, dan lambat : gelombang delta (amplitudo tinggi, 3-4 siklus/detik) adalah stadium tidur paling dalam. Pada stadium ini anak kecil sering mengompol dan somnabulisme.

2.9.2 Tahapan Tidur REM
Stadium 4 diikuti lanjut dengan tahap tidur paradoks atau tidur REM. Pada masa ini gelombang EEG menjadi seperti beta : cepat dan tidak sinkron, mirip dengan gelombang saat manusia berada dalam fase aktivitas, meski pada kenyataannya ia sangat sulit dibangunkan. Tonus otot leher dan anggota gerak minimal, bola mata bergerak cepat dibalik pelupuk mata yang menutup. Mimpi terjadi paling banyak dalam tahap ini.
Selama tidur REM,otak cenderung aktif dan metabolismenya meninggkat hingga 20%. Pada tahap individu menjadi sulit untuk dibangunkan atau justru dapat bangun dengan tiba-tiba, tonus otot terdepresi,sekresi lambung meningkat,dan frekuensi jantung dan pernapasan sering kali tidak teratur.
Tahap tidur REM :
·         Terjadi mimpi (lebih nyata&rumit)
·         90 menit
·         Terjadi pergerakan mata yang cepat, fluktuasi jantung, dan kecepatan respirasi dan peningkatan tekanan darah
·         Peningkatan sekresi lambung
·         Penurunan tonus otot skelet
·         Sulit dibangunkan

2.10. Pusat Tidur
            Jika stimulasi sensorik berkurang orang cenderung masuk kedalam stadium tidur, suatu fenomena pasif. Pusat formasion retikular di bagian bawah mempunyai peran aktif dalam menginduksi tidur dan mengatur stadiumnya. Jadi, sekresi seretonin dari neuron nuklei raphe di formasio retikular pontis akan meningkatkan gelombang lambat. Penglepasan norepinefrin dari neuron yang berasal dari lokus seruleus (bagian dari formasio retikular medula) dapat meningkatkan tidur REM. Lesi spesifik area ini akan secara selektid mempengaruhi kedua tahap tidur. Beberapa area hipotalamus tertentu mempunyai aktivitas mempromosi tidur. Obat yang menurunkan aktivitas norepinefrin otak, dapat menyebabkan insomnia; obat yang meningkatkan kadar seretonin otak, akan menyebabkan tidur. Beberapa protein pendorong tidur terakumulasi selama masa jaga, terutama dalam cairan serebrospinal, dan menginduksi tidur bila mencapai kadar tinggi.
            Pusat tidur formasion retikular bagian bawah dan pusat jaga midbrain (ARAS) di formasio retikular bagian atas, saling berinteraksi untuk mengatur tidak hanya setiap tahap tidur, tetapi juga seluruh siklus tidur-jaga. 
 

2.11. Kebutuhan Tidur
Kebutuhan tidur pada manusia tcrgantung pada tingkat perkembangan,
Tabel 1\Kebutuhan Tidur Manusia
Umur
1. Tingkat Perkembangan
0 - 1 bulan
Bayi baru lahir Jumlah Kebutuhan tidur
14 - 18 jam/hr
2. Masa bayi
1 bulan - 18 bulan 12 - 14 jam/ hari
3. Masa anak
18 bulan - 3 tahun 11 - 12 jam/hari
4. Masa prasekolah
3 tahun - 6 tahun 11 jam/hari
5. Masa sekolah
6 tahun - 12 tahun 10 jam/ hari
6. Masa remaja
12 tahun - 18 tahun 8,5 jam/hari
7. Masa dewasa
18 - 40 tahun 7 - 8 jam/hari
8. Masa muda paruh baya
40 tahun - 60 tahun 7 jam/hari
9. Masa dewasa tua
60 tahun keatas 6 jam/hari
2.12. Masalah Tidur

INSOMNIA
Insomnia adalah ketidakmampuan memenuhi kebutuhan tidur, baik secara kualitas maupun kuantitas. Gangguan tidur ini umumnya ditemui pada individu dewasa. Penyebabnya bisa karena gangguan fisik atau karena faktor mental seperti perasaan gundah atau gelisah.
Ada tiga jenis insomnia:
1.Insomnia inisial yaitu kesulitan untuk memulai tidur.
2.Insomnia intermiten yaitu kesulitan untuk tetap tertidur karena seringnya terjaga.
3.Insomnia terminal yaitu bangun terlalu dini dan sulit untuk tidur kembali.

PARASOMNIA
Masalah tidur yang lebih banyak terjadi pada anak-anak :
  • Night terrors dan mimpi buruk
  • Sleepwalking dan sleeptalking
  • Bruksisme
  • Enuresis

HYPERSOMNIA
Gangguan ini adalah kebalikan dari insomnia. Seringkali penderita dianggap memiliki gangguan jiwa atau malas. Para penderita hypersomnia membutuhkan waktu tidur yang sangat banyak dari ukuran normal. Meskipun penderita tidur melebihi ukuran normal, namun mereka selalu merasa letih dan lesu sepanjang hari. Namun gangguan ini tidaklah terlalu serius dan dapat diatasi sendiri oleh penderita dengan menerapkan prinsip-prinsip manajemen diri.

SLEEP APNEA
Gangguan yg dicirikan dg kurangnya aliran udara melalui hidung dan mulut.
Ada 3 jenis apnea tidur: apnea sentral, obstruktif, dan campuran :
APNEA OBSTRUKTIF
Terjadi pada saat otot atau struktur rongga mulut atau tenggorok rileks pada saat tidur. Jalan nafas atas menjadi tersumbat, dan aliran udara pada hidung berkurang atau berhenti. Individu masih berusaha untuk bernafas karena gerakan dada dan abdomen terus terjadi, yang seringkali menyebabkan bunyi dengkuran atau dengusan yang keras.
APNEA SENTRAL
Melibatkan disfungsi pada pusat pengendalian pernafasan di otak. Impuls untuk bernafas sementara berhenti, dan aliran udara pada hidung dan gerakan dinding dada juga terhenti. Saturasi oksigen dalam darah juga menurun. Kondisi ini terjadi pada klien yg mengalami cedera batang otak
APNEA CAMPURAN
Merupakan perpaduan antara apnea obstruktif dan apnea sentral


NARKOLEPSI
            Disfungsi mekanisme yg mengatur keadaan bangun dan tidur. Suatu kondisi yg dicirikan oleh keinginan yg tidak terkendali utk tidur.
            Orang yg menderita narkolepsi boleh dikatakan dapat tidur diwaktu sedang berdiri, tengah mengemudikan kendaraan, tidur di tengah-tengah suatu pembicaraan atau selagi berenang


DAFTAR PUSTAKA

v  http://www.wikipedia.com/fisiologi tidur. diakses pada tanggal 12 April 2011.
v  http://kumpulan.info/sehat/artikel-kesehatan/48-artikel-kesehatan/89-tidur-nyenyak-di-malam-hari.html.
v  DSJ Mardiati Ratna. Dr. 1996. Buku Kuliah Susunan Saraf Otak Manusia. Jakarta: CV. Infomedika.
v  Perry, A.G & Potter, P.A. 2005. Buku ajar Fundamental Keperawatan. Jakarta:EGC


2 komentar:

tri denan mengatakan...

3>>>
good

tri denan mengatakan...

3>>>
good

Poskan Komentar

Newer Posts Older Posts